Status Gunung Merapi yang Meningkat Menjadi Siaga

Status Gunung Merapi yang Meningkat Menjadi Siaga

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung di Indonesia yang masih aktif hingga saat ini. Hari Kamis tanggal 5 November ini, status Gunung Merapi berubah menjadi siaga. Kondisi ini terjadi akibat aktifitas vulkanik yang dialami oleh Gunung Merapi. Pihak BPPTKG melakukan pemetaan terkait dengan daerah bahaya yang kemungkinan menderita dampak aktifitas Merapi. Tercatat ada 12 desa yang berada di Jawa Tengan dan Jogjakarta yang masuk ke dalam pemetaan ini. Sleman, Glagaharjo, Umbulharjo dan Kepuhajo merupakan desa di Jogjakarta yang tercatat pada pemetaan BPPTKG. Sedangkan desan di Jawa Tengah yang masuk pemetaan adalah Magelang, Klaten dan Boyolali. Ketiga daerah ini diperkiraan masuk ke dalam zona bahaya akibat letusan Gunung Merapi.

Dengan status siaga Gunung Merapi, pihak BPPTKG juga menyarankan kepada warga untuk menghentikan kegiatan penambangan di sekitar sungai yang terletak di kawasan Gunung Merapi. Para wisatawan juga dihimbau untuk tidak melakukan aktifitas di gunung yang masih aktif ini. Pasca erupsi gunung yang terjadi pada tahun 2010 lalu, gunung-gunung yang terletak di perbatasa Jawa Tengah dan Jogjakarta mengalami erupsi magmatis. Sejak bulan Agustus tahun 2018 hingga September tahun 2019, gunung aktif ini sering melakukan erupsi. Berhentinya ekstruksi magma, gunung ini memasuki masa intrusi magma yang baru. Hal ini ditandai dengan terjadinya gempa vulkanik dan letusan eksplosif yang berkelanjutan.

Hingga saat ini, aktifitas Gunung Merapi terus melakukan peningkatan. Gempa dan deformasi gunung ini terus-terusan terjadi. Kejadian ini tentunya dapat berpotensi terjadinya letusan eksplosif dan enstrusi magma. Ancaman awan panas, lontaran material dan guguran lava akan terjadi jika Gunung Merapi masuk ke dalam status siaga. Meskipun memasuki status siaga, warga Jateng dan sekitarnya diharapkan tidak mengalami kepanikan. Gubernur Jawa Tengah bahkan meminta warganya untuk tidak panik dengan status siaga yang diberikan kepada Gunung Merapi. Guna memberikan informasi dan kepastian kepada masyarakat, Ganjar Pranowo meminta BPBD untuk terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi Gunung Merapi.

Status Gunung Merapi yang Meningkat Menjadi Siaga

Semua peralatan yang dibutuhkan untuk pemantauan harus disediakan sedini mungkin. Jika tidak ada Early Warning System, hal-hal yang bersifat tradisional juga perlu untuk dipersiapkan. Gubernur Jawa Tengah ini juga meminta kepada aparatur pemerintahan dan desa untuk berperan siaga membantu para warganya. Status siaga Gunung Merapi telah dikonfirmasikan dari sejumlah pihak. Dengan kabar yang telah dikonfirmasikan, lokasi rawan bencana juga mendapatkan perhatian khusus. Tempat pengungsian segera didirikan. Selama pendirian tempat pengungsian ini, penerapan protokol kesehatan juga harus diperhatikan dengan seksama. Tempat pengungsian yang dibangun harus menjaga jarak dengan baik.

Hingga saat ini, Gunung Merapi telah menimbulkan gempa guguran sebanyak 26 kali. Gempa guguran ini kelak dapat menimbulkan awan panas. Tidak hanya gempa guguran, gunung ini juga mengalami gempa hembusan sebanyak 16 kali dengan amplitudo sekitar 1 hingga 11 mm. Gempa hembusan ini berlangsung selama 10 hingga 49 detik. Yang paling mendebarkan, Gunung Merapi banyak melakukan aktifitas yang menyebabkan warga Jateng dan Jogjakarta merasa panik. Bagaimana tidak? Gunung ini juga menghembuskan gempa tektonik selama 115 detik dan gempa hybrid selama 6 hingga 14 detik. Gunung Merapi juga menyebabkan gempa vulkanik yang cukup dangkal dan berlangsung selama 13 hingga 30 detik. Puncak di Gunung Merapi ini memiliki warna putih dan dengan itensitas sedang.

Selama status siaga, warga sebaiknya tidak melakukan kegiatan dalam radius 3 Km. Ancaman bahaya dari gunung ini adalah luncuran awan panas akibat jatuhnya material vulkanik dan runtuhnya kubah lava dari gunung. Masyarakat sekitar gunung juga perlu mewaspadai bahaya lahar ketika hujan terjadi. Sebelum memasuki status siaga, Gunung Merapi kerap kali mengalami erupsi. Pada saat itu, status gunung ini hanya berada pada level waspada. Pada saat itu, masyarakat dianjurkan untuk selalu bersikap hati-hati. Pada saat terjadinya erupsi, amplitudo erupsi gunung adalah 75 mm dengan durasi 328 detik. Arah angin pada saat itu menuju ke arah barat.

Daerah yang terkena dampak erupsi pada kala itu adalah Magelang. Kota tersebut mengalami hujan abu. Hujan abu juga dialami oleh masyarakat di kecamatan Srumbung. Hujan abu di kecamatan ini tidak separah di kota Magelang. Kecamatan Salam justru mengalami hujan abu yang cukup deras. Pada saat terjadinya hujan abu, banyak kendaraan yang menepi guna menghindari gangguan dari hujan abu. Terjadinya hujan abu membuat Gunung Merapi memasuki status waspada pada saat itu. Tidak hanya awan panas, status waspada juga didukung dengan terjadinya letusan eksplosif dan jatuhan material vulkanik. Status gunung menjadi siaga pada bulan November ini akibat banyaknya letusan yang dialami oleh Gunung Merapi. Masyarakat diminta untuk menjaga diri dan selalu bersikap hati-hati dengan status siaga yang diberikan kepada gunung aktif ini.

Scroll to top